Merti Kali Winongo adalah tradisi masyarakat Yogyakarta yang memadukan rasa syukur, pelestarian sungai, budaya Jawa, dan kebersamaan warga.
Merti Kali Winongo: Tradisi Jawa yang Mengajarkan Cara Merawat Sungai dan Kehidupan
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, sungai tidak selalu dipandang sekadar sebagai jalur air. Sejak masa lalu, sungai telah menjadi bagian penting dari ruang hidup, sumber air, jalur aktivitas masyarakat, sekaligus unsur krusial dalam lanskap budaya. Salah satu contoh nyata dari hubungan erat tersebut dapat dilihat melalui tradisi Merti Kali Winongo di Yogyakarta. Tradisi ini kembali menjadi perhatian publik pada bulan September 2026 ketika masyarakat Kampung Sudagaran, Kelurahan Tegalrejo, menggelar perhelatan Merti Kali Winongo pada tanggal 13 September 2026. Kegiatan tersebut bukan sekadar menghadirkan prosesi budaya semata, melainkan juga merangkum berbagai kegiatan lingkungan, pentas seni, interaksi sosial masyarakat, hingga pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Merti Kali memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat terus mengalami perkembangan zaman tanpa harus kehilangan pesan dasarnya, di mana sungai diletakkan sebagai pusat perhatian sementara masyarakat berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus mengenang kembali tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan hidup.
Apa Itu Merti Kali Winongo?
Istilah merti dalam konteks budaya Jawa berkaitan erat dengan tindakan merawat, memelihara, atau menjaga sesuatu yang dianggap sangat penting bagi kelangsungan kehidupan. Oleh karena itu, Merti Kali dapat dipahami sebagai kegiatan budaya yang menempatkan sungai sebagai bagian dari ruang hidup yang wajib dirawat. Pelaksanaan Merti Kali Winongo tidak hanya berupa satu bentuk ritual tunggal yang kaku, melainkan bentuk kegiatan yang dapat terus berkembang menyesuaikan kondisi masyarakat serta wilayah penyelenggaranya.
Dalam praktiknya di Kampung Sudagaran pada tahun 2026, rangkaian kegiatan yang diselenggarakan meliputi:
-
Kirab Gunungan yang menjadi simbol kemakmuran dan rasa syukur.
-
Kirab Bregodo Wiratama yang menampilkan nuansa keprajuritan khas Yogyakarta.
-
Tebar benih ikan di aliran sungai sebagai wujud kepedulian ekologis.
-
Pentas seni tradisional maupun modern yang menghibur warga.
-
Mancing bersama untuk mempererat kebersamaan antarwarga.
-
Bazar UMKM yang mendukung penguatan ekonomi kerakyatan.
Rangkaian acara tersebut memperlihatkan perpaduan yang harmonis antara ekspresi budaya leluhur, kepedulian nyata terhadap lingkungan, serta aktivitas sosial-ekonomi masyarakat modern. Dengan demikian, Merti Kali bukan sekadar acara seremonial tahunan belaka, melainkan telah menjelma menjadi ruang pertemuan bagi berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Sungai Winongo dalam Kehidupan Yogyakarta
Sungai Winongo merupakan salah satu sungai utama yang melintasi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Alirannya membentang melewati kawasan Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, hingga Kabupaten Bantul sebelum akhirnya terhubung dengan sistem sungai di bagian selatan Yogyakarta. Berbagai kajian mengenai geografi wilayah mencatat bahwa Sungai Winongo memiliki panjang aliran sekitar 48 kilometer.
Posisi geografis yang strategis tersebut membuat Sungai Winongo memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai permukiman padat yang berkembang di sepanjang alirannya. Bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, keberadaan Sungai Winongo bukanlah sesuatu yang jauh atau asing dalam kehidupan sehari-hari, melainkan menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan tempat tinggal dan ruang sosial mereka. Hubungan kedekatan inilah yang kemudian membuat kegiatan seperti Merti Kali memiliki arti yang jauh lebih luas. Ketika masyarakat berbicara mengenai upaya menjaga Sungai Winongo, yang sebenarnya sedang dibicarakan bukan sekadar masalah kualitas air yang jernih, melainkan juga keberlanjutan ruang hidup dan masa depan mereka sendiri.
Tradisi yang Berangkat dari Rasa Syukur
Salah satu nilai luhur yang paling utama dalam tradisi Merti Kali adalah ungkapan rasa syukur yang mendalam. Tradisi memetri atau merti sungai telah lama dikaji oleh para pemerhati budaya sebagai bentuk rasa terima kasih masyarakat atas keberadaan air dan sungai yang selama ini menopang kelangsungan hidup manusia. Dalam perkembangan peradaban, kegiatan budaya ini juga secara cerdas digunakan sebagai sarana efektif untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Rasa syukur tersebut tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kata-kata verbal, melainkan diekspresikan melalui ragam tindakan simbolis:
-
Pelaksanaan kirab keliling kampung.
-
Doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat atau pemuka masyarakat.
-
Persembahan hasil bumi yang melimpah.
-
Pertunjukan seni yang melibatkan seluruh elemen warga.
-
Berbagai kegiatan menjaga lingkungan secara langsung.
Di sinilah letak daya tarik dari sebuah nilai tradisi. Masyarakat tidak hanya sekadar mengatakan bahwa sungai itu penting bagi kehidupan, tetapi mereka juga mewujudkannya dengan menciptakan kegiatan kolektif yang secara konstan mengingatkan warga mengenai betapa vitalnya keberadaan sungai dalam denyut keseharian mereka.
Kirab Menjadi Bagian Penting Tradisi
Kirab merupakan salah satu unsur artistik yang membuat tradisi Merti Kali memiliki daya tarik visual yang kuat di mata masyarakat luas. Pada pelaksanaan Merti Kali Winongo di Sudagaran tahun 2026, warga setempat menampilkan dua atraksi utama yang memukau, yaitu Kirab Gunungan dan Kirab Bregodo Wiratama. Kehadiran unsur-unsur tersebut tidak hanya memberikan nuansa khas kebudayaan Yogyakarta yang kental, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi masyarakat untuk menunjukkan identitas lokal mereka.
Gunungan memiliki posisi yang sangat terhormat dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. Bentuk fisiknya yang menyerupai tumpukan hasil bumi yang menggunung menyimbolkan kemakmuran, rasa syukur atas limpahan rezeki, serta pengharapan akan keselamatan hidup. Sementara itu, barisan bregodo menghadirkan unsur visual yang menarik berupa kelompok masyarakat yang mengenakan tata busana tradisional lengkap dengan formasi barisan tertentu. Ketika kedua unsur budaya ini berpadu dalam rangkaian Merti Kali, sungai tidak lagi sekadar diposisikan sebagai latar belakang alam yang pasif, melainkan bertransformasi menjadi bagian dari panggung kebudayaan masyarakat yang hidup dan dinamis.
Tebar Benih Ikan dan Pesan Lingkungan
Aspek yang membuat Merti Kali Winongo semakin relevan dengan tantangan kehidupan modern adalah diintegrasikannya berbagai kegiatan pelestarian lingkungan secara nyata. Tepat pada tanggal 13 September 2026, warga secara bersama-sama melakukan tebar benih ikan di aliran Sungai Winongo. Kegiatan ekologis ini dimaknai sebagai wujud kepedulian nyata terhadap keseimbangan ekosistem sungai sekaligus menjadi pengingat kuat bahwa kehidupan biota di dalam air juga merupakan tanggung jawab moral manusia untuk menjaganya.
Langkah ini menunjukkan adanya evolusi positif dalam cara masyarakat memaknai sebuah tradisi:
-
Jika pada masa lalu hubungan antara manusia dan alam banyak disampaikan melalui simbol-simbol kultural dan ritual mistis, maka masyarakat di masa kini dapat menambahkan tindakan aksi nyata berupa pemeliharaan ekologi secara langsung.
-
Tradisi kemudian berfungsi secara efektif sebagai jembatan emas antara pelestarian nilai budaya leluhur dan pemenuhan kebutuhan ekologis masa kini.
Pesan yang disampaikan pun sangat sederhana namun bermakna mendalam: sungai yang dihormati secara kultural melalui tradisi juga harus dijaga dan dirawat secara nyata dalam tindakan sehari-hari.
Merti Kali sebagai Ruang Bertemunya Warga
Sebuah tradisi yang hidup selalu memiliki kekuatan sosial yang luar biasa karena ia mampu mempertemukan kembali orang-orang yang dalam rutinitas kehidupan sehari-hari mungkin jarang memiliki kesempatan untuk berkumpul. Hal tersebut tampak jelas dalam perhelatan Merti Kali Winongo 2026, di mana berbagai elemen dan kelompok masyarakat hadir melebur menjadi satu, mulai dari warga kampung, tokoh masyarakat, para seniman lokal, hingga pelaku UMKM.
-
Anak-anak mendapatkan kesempatan berharga untuk menyaksikan pertunjukan seni secara langsung.
-
Orang tua dan warga dewasa dapat mengikuti rangkaian prosesi adat dengan khidmat.
-
Pelaku seni mendapatkan ruang terbuka yang apresiatif untuk tampil di muka publik.
-
Pelaku usaha lokal memiliki peluang emas untuk memperkenalkan dan memasarkan produk unggulan mereka.
Dengan cara pengelolaan yang inklusif seperti ini, satu agenda tradisi mampu menjalankan banyak fungsi sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia berfungsi sebagai ritual budaya, sarana pendidikan informal bagi generasi muda, kegiatan mempererat kohesi sosial, sekaligus kesempatan emas untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan warga setempat.
Dari Sungai ke Ekonomi Lokal
Salah satu aspek yang tidak kalah menarik dalam perhelatan Merti Kali Winongo 2026 adalah pelibatan aktif sektor UMKM melalui penyelenggaraan bazar rakyat. Keberadaan bazar UMKM yang diintegrasikan ke dalam rangkaian acara membuktikan bahwa kegiatan pelestarian budaya juga mampu membuka ruang yang luas bagi aktivitas ekonomi warga.
Hubungan sinergis antara kebudayaan dan perekonomian lokal sebenarnya bukanlah fenomena baru. Sebuah tradisi yang dikemas dengan baik dan mampu menarik perhatian masyarakat luas secara otomatis akan menciptakan ruang ekonomi bagi para pedagang kecil, perajin lokal, pelaku industri kuliner, hingga komunitas kreatif. Namun, kunci utama yang harus senantiasa dijaga adalah keseimbangan. Kegiatan bernuansa komersial dan ekonomi tersebut harus berfungsi untuk memperkuat keberlanjutan tradisi itu sendiri, alih-alih menjadikan nilai budaya adiluhung sekadar menjadi latar belakang komersial semata. Identitas lokal dan keluhuran nilai budaya harus tetap diposisikan sebagai pilar utama yang dihormati bersama.
Mengapa Tradisi Ini Penting bagi Generasi Muda?
Generasi muda di era digital saat ini sering kali mengenal ragam budaya bangsa hanya melalui buku teks sekolah, platform media sosial, atau konten digital di internet. Meskipun cara-cara tersebut membantu proses pengenalan awal, pengalaman keterlibatan secara langsung (direct experience) memiliki nilai transformatif yang jauh berbeda dan tidak tergantikan.
Merti Kali memberikan ruang kesempatan emas bagi generasi muda untuk melihat, merasakan, dan mengalami secara langsung bagaimana sebuah tradisi luhur berlangsung di tengah denyut kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mereka dapat menyaksikan kemeriahan kirab budaya, mendengarkan cerita para tetua kampung, berpartisipasi dalam aksi pemeliharaan lingkungan, menikmati kesenian tradisional, serta menyadari sepenuhnya bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang kaku dan hanya tersimpan di masa lalu. Budaya terbukti mampu terus hidup, beradaptasi, dan menjawab tantangan kebutuhan zaman masyarakatnya. Oleh karena itu, keterlibatan aktif generasi muda memegang peranan yang sangat krusial, karena mereka bukan sekadar penerima warisan pasif, melainkan calon penerus estafet kepemimpinan yang kelak akan menentukan arah pewarisan tradisi di masa depan.
Merti Kali dan Perubahan Makna Tradisi
Sebuah tradisi yang sehat tidak pernah bersifat statis atau memiliki bentuk yang persis sama sepanjang waktu. Merti Kali Winongo menjadi teladan yang baik tentang bagaimana sebuah praktik budaya lokal mampu beradaptasi secara cerdas dengan berbagai persoalan kompleks masyarakat modern. Kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian sungai menjadi semakin mendesak untuk terus disuarakan mengingat kawasan perkotaan kini dihadapkan pada berbagai tantangan lingkungan hidup yang semakin berat.
Kajian akademis mengenai gerakan sosial berbasis budaya di sekitar aliran Sungai Winongo menunjukkan bahwa tradisi memetri sungai dapat berkembang menjadi gerakan kolektif yang efektif untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, tradisi terbukti tidak perlu dipertentangkan secara dikotomis dengan modernitas. Keduanya dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat selama nilai-nilai esensial kebudayaan tetap dipahami dengan baik. Masyarakat dapat tetap mempertahankan kemeriahan kirab dan simbol-simbol tradisional, sembari secara konsisten melakukan aksi nyata seperti membersihkan bantaran sungai, menjaga ekosistem air, dan menanamkan karakter kepedulian lingkungan kepada generasi penerus.
Sungai sebagai Bagian dari Identitas Kampung
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari pelaksanaan Merti Kali Winongo adalah bagaimana sebuah wilayah geografis dapat bertransformasi menjadi bagian integral dari identitas sosial suatu masyarakat. Sungai bukan lagi sekadar batas wilayah administratif atau sekadar saluran pembuangan air hujan. Di dalam kehidupan sebuah kampung, sungai adalah ruang hidup tempat lahirnya cerita masa kecil, kenangan kolektif, interaksi sosial yang hangat, serta warisan tradisi turun-temurun.
Ketika warga masyarakat berkumpul dan menyelenggarakan Merti Kali, mereka sebenarnya sedang melakukan kerja budaya yang jauh lebih besar daripada sekadar membersihkan fisik sungai:
-
Mereka sedang merawat ingatan kolektif mengenai sejarah kampung halaman mereka.
-
Mereka sedang merajut kembali hubungan antargenerasi yang harmonis.
-
Mereka sedang menghidupkan kembali ruang publik sebagai tempat bertemunya warga.
-
Mereka sedang mengajarkan kepada anak-cucu bahwa lingkungan tempat tinggal mereka memiliki akar sejarah yang kuat dan layak untuk dijaga kelestariannya.
Tradisi yang Menghubungkan Budaya dan Lingkungan
Di tengah krisis lingkungan global yang semakin kompleks dewasa ini, Merti Kali menawarkan sebuah model pendekatan alternatif yang berbasis kearifan lokal budaya. Pesan moral tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan ternyata tidak selalu harus disampaikan melalui kampanye formal birokratis yang kaku. Nilai-nilai ekologis tersebut dapat diinternalisasikan dengan mulus ke dalam kegiatan kultural yang telah lama dikenal dan dekat di hati masyarakat.
Ketika warga berkumpul atas dasar kecintaan terhadap tradisi, pesan-pesan moral mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai akan jauh lebih mudah diterima dan diserap karena disampaikan melalui pengalaman sosial yang menyenangkan. Ketika anak-anak melihat secara langsung bagaimana para orang dewasa dengan antusias melakukan aksi pelestarian lingkungan, mereka mendapatkan teladan figuratif yang konkret. Dan ketika kegiatan positif tersebut dilakukan secara rutin dari tahun ke tahun, kepedulian terhadap kelestarian sungai akan berangsur-angsur berubah menjadi kebiasaan hidup yang membudaya.
Kesimpulan
Merti Kali Winongo merupakan manifestasi nyata dari bagaimana tradisi masyarakat Jawa mampu terus hidup dan berkembang secara dinamis mengikuti tuntutan zaman. Perhelatan akbar yang berlangsung di Kampung Sudagaran, Yogyakarta, pada September 2026 telah sukses mempertemukan unsur pelestarian budaya, kepedulian ekologis, kebersamaan sosial, seni pertunjukan, dan pemberdayaan ekonomi lokal dalam satu panggung kebersamaan.
Tradisi ini kembali mengingatkan kita semua bahwa sungai tidak pernah sekadar dipahami sebagai aliran air biasa. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan di sekitarnya, sungai adalah bagian hakiki dari ruang kehidupan, lembaran sejarah kampung, serta perekat hubungan sosial kemasyarakatan. Melalui pelaksanaan kirab budaya, aksi peduli lingkungan, pementasan seni, hingga partisipasi aktif segenap warga, Merti Kali membuktikan bahwa warisan budaya leluhur dapat senantiasa relevan tanpa harus kehilangan akar tradisonalnya. Pada akhirnya, pesan universal yang disampaikan oleh Merti Kali Winongo sangatlah sederhana namun sarat makna: merawat sungai berarti menjaga kelangsungan kehidupan, sedangkan merawat tradisi berarti menjaga ingatan kolektif masyarakat agar terus mengalir jernih melintasi batas-batas generasi.