Perjanjian Bongaya 1667 menjadi titik balik runtuhnya kekuatan Kesultanan Gowa setelah Perang Makassar. Simak latar belakang, isi, dan dampaknya bagi sejarah Indonesia.
Perjanjian Bongaya 1667 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang menandai melemahnya kekuatan Kesultanan Gowa sebagai kerajaan maritim terbesar di kawasan timur Nusantara. Kesepakatan yang ditandatangani antara Kesultanan Gowa dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) tersebut bukan sekadar mengakhiri peperangan, tetapi juga menjadi awal dominasi Belanda atas jalur perdagangan di Indonesia bagian timur.
Nama Perjanjian Bongaya diambil dari Desa Bungaya atau Bongaya, sebuah wilayah di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tempat berlangsungnya proses perundingan. Meski secara resmi disebut sebagai perjanjian damai, isi kesepakatan tersebut lebih banyak menguntungkan VOC dibandingkan Kesultanan Gowa.
Lantas, bagaimana latar belakang lahirnya Perjanjian Bongaya? Apa saja isi perjanjiannya, dan mengapa peristiwa ini dianggap sebagai titik balik dalam sejarah kolonial Indonesia? Simak ulasan lengkap berikut.
Latar Belakang Perjanjian Bongaya
Pada abad ke-17, Kesultanan Gowa berkembang menjadi salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara. Berpusat di Makassar, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan yang menghubungkan Maluku, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga wilayah Asia Tenggara.
Pelabuhan Makassar dikenal sebagai pelabuhan bebas. Pedagang dari berbagai bangsa, seperti Portugis, Inggris, Melayu, Arab, India, hingga Tiongkok, dapat berdagang tanpa monopoli.
Kondisi tersebut bertolak belakang dengan kebijakan VOC yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah secara eksklusif. Belanda berusaha menutup seluruh jalur perdagangan yang tidak berada di bawah kendalinya agar harga rempah tetap tinggi di pasar Eropa.
Kesultanan Gowa menolak keras tuntutan tersebut. Sultan Hasanuddin sebagai penguasa saat itu berpendapat bahwa laut adalah milik bersama sehingga setiap bangsa berhak melakukan perdagangan secara bebas.
Perbedaan kepentingan inilah yang kemudian memicu konflik besar antara Kesultanan Gowa dan VOC.
Perang Makassar
Perselisihan yang semakin memanas akhirnya berkembang menjadi Perang Makassar yang berlangsung pada 1666 hingga 1669.
VOC mengirim armada besar di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman. Dalam menghadapi Kesultanan Gowa, VOC tidak bertempur sendirian. Mereka berhasil membangun koalisi dengan Arung Palakka, pemimpin Kerajaan Bone yang sebelumnya memiliki konflik dengan Gowa.
Aliansi tersebut membuat posisi Kesultanan Gowa semakin sulit. Selain menghadapi serangan dari laut menggunakan kapal-kapal modern milik VOC, kerajaan juga harus menghadapi tekanan dari pasukan Bone di daratan.
Meskipun Sultan Hasanuddin dikenal sebagai pemimpin yang berani dan memiliki strategi perang yang baik, kekuatan militer Gowa lambat laun melemah akibat blokade perdagangan dan serangan yang berlangsung terus-menerus.
Dalam situasi tersebut, VOC menawarkan jalan damai melalui sebuah perundingan yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Bongaya.
Proses Penandatanganan Perjanjian
Perundingan berlangsung pada 18 November 1667 di Bongaya.
Pihak VOC diwakili oleh Cornelis Speelman, sedangkan Kesultanan Gowa diwakili oleh Sultan Hasanuddin beserta para pembesar kerajaan.
Walaupun disebut sebagai hasil kesepakatan bersama, banyak sejarawan menilai posisi Kesultanan Gowa saat itu berada dalam tekanan yang sangat besar. Kondisi militer yang melemah membuat kerajaan hampir tidak memiliki pilihan selain menerima tuntutan VOC.
Karena itu, isi Perjanjian Bongaya lebih mencerminkan kemenangan VOC daripada sebuah kompromi yang seimbang.
Isi Perjanjian Bongaya
Perjanjian Bongaya terdiri atas puluhan pasal yang mengatur hubungan antara Kesultanan Gowa dan VOC. Beberapa poin terpenting antara lain sebagai berikut.
1. VOC Memperoleh Hak Monopoli Perdagangan
Kesultanan Gowa harus mengakui hak monopoli VOC atas perdagangan rempah-rempah di wilayah Indonesia timur.
Dengan demikian, pedagang asing yang sebelumnya bebas berdagang di Makassar kehilangan akses untuk melakukan transaksi tanpa izin VOC.
2. Benteng Diserahkan kepada VOC
Beberapa benteng penting milik Kesultanan Gowa diserahkan kepada VOC.
Benteng Ujung Pandang kemudian dikuasai Belanda dan diubah namanya menjadi Benteng Rotterdam. Benteng ini menjadi pusat administrasi dan pertahanan VOC di Sulawesi Selatan.
3. Pengusiran Bangsa Eropa Selain Belanda
Kesultanan Gowa diwajibkan mengusir bangsa Portugis dan negara Eropa lain yang menjadi pesaing VOC.
Kebijakan ini memperkuat posisi Belanda sebagai kekuatan utama di kawasan tersebut.
4. Pengakuan terhadap Kerajaan Bone
Kesultanan Gowa harus mengakui kemerdekaan Bone di bawah kepemimpinan Arung Palakka.
Keputusan ini mengakhiri dominasi Gowa atas Bone yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
5. Pembatasan Aktivitas Pelayaran
Seluruh kapal milik Kesultanan Gowa diwajibkan memperoleh izin dari VOC apabila ingin melakukan pelayaran ke berbagai wilayah perdagangan.
Aturan tersebut secara langsung mengurangi kemandirian ekonomi kerajaan.
6. Pembayaran Ganti Rugi
Kesultanan Gowa diwajibkan membayar sejumlah ganti rugi kepada VOC sebagai konsekuensi perang yang telah terjadi.
Beban ekonomi ini semakin memperlemah kondisi kerajaan setelah konflik berkepanjangan.
Dampak Perjanjian Bongaya
Perjanjian Bongaya membawa dampak besar, bukan hanya bagi Kesultanan Gowa, tetapi juga terhadap perkembangan sejarah Indonesia secara keseluruhan.
Berakhirnya Dominasi Gowa
Kesultanan Gowa kehilangan pengaruh sebagai kerajaan maritim terbesar di kawasan timur Nusantara.
Wilayah yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Gowa mulai melepaskan diri sehingga kekuatan politik kerajaan menurun drastis.
VOC Menguasai Perdagangan Timur Indonesia
Setelah memperoleh hak monopoli, VOC semakin mudah mengendalikan distribusi rempah-rempah dari Maluku menuju pasar internasional.
Penguasaan jalur perdagangan ini memperkuat posisi ekonomi Belanda selama beberapa dekade berikutnya.
Awal Kolonialisme yang Lebih Kuat
Keberhasilan VOC menundukkan Gowa menjadi salah satu tonggak penting dalam perluasan kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.
Setelah menguasai pusat perdagangan terbesar di Indonesia timur, VOC memiliki pijakan yang lebih kuat untuk memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah lain.
Perubahan Peta Politik Sulawesi Selatan
Kemenangan Bone bersama VOC mengubah keseimbangan kekuasaan di Sulawesi Selatan.
Arung Palakka muncul sebagai tokoh berpengaruh, sementara Kesultanan Gowa kehilangan posisi dominannya di kawasan tersebut.
Mengapa Sultan Hasanuddin Dijuluki Ayam Jantan dari Timur?
Meskipun akhirnya menandatangani Perjanjian Bongaya, Sultan Hasanuddin tetap dikenang sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Keberaniannya melawan VOC membuatnya dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” oleh Belanda. Julukan tersebut mencerminkan kegigihan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan meski menghadapi kekuatan militer yang lebih modern.
Perlawanan yang dipimpinnya menjadi simbol semangat anti-kolonial dan perjuangan mempertahankan kebebasan perdagangan di Nusantara.
Perjanjian Bongaya dalam Perspektif Sejarah
Sebagian besar sejarawan memandang Perjanjian Bongaya bukan sebagai perjanjian damai yang setara, melainkan bentuk perjanjian yang dipaksakan kepada pihak yang kalah perang. Ketidakseimbangan posisi tawar membuat hampir seluruh klausul menguntungkan VOC.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana strategi kolonial tidak hanya dilakukan melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat diplomasi dan perjanjian politik yang mengikat kerajaan-kerajaan Nusantara. Dengan memanfaatkan konflik antarkerajaan serta membangun aliansi lokal, VOC mampu memperluas pengaruhnya tanpa harus mengerahkan kekuatan secara terus-menerus.
Pengalaman Kesultanan Gowa menjadi pelajaran penting bahwa persatuan antardaerah merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menghadapi kekuatan asing. Perpecahan internal justru membuka peluang bagi pihak luar untuk menguasai wilayah dan sumber daya yang dimiliki Nusantara.
Penutup
Perjanjian Bongaya 1667 menjadi salah satu titik balik dalam sejarah Indonesia. Perjanjian ini menandai berakhirnya dominasi maritim Kesultanan Gowa sekaligus memperkuat kekuasaan VOC atas perdagangan di kawasan timur Nusantara.
Meskipun membawa kerugian besar bagi Gowa, kisah perjuangan Sultan Hasanuddin tetap dikenang sebagai simbol keberanian melawan kolonialisme. Memahami sejarah Perjanjian Bongaya membantu kita melihat bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga melalui meja perundingan yang menentukan arah perjalanan sejarah Indonesia.