Mengenal Prasasti Ligor, peninggalan abad ke-8 yang menjadi bukti luasnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Semenanjung Malaya dan Thailand Selatan serta hubungannya dengan Dinasti Sailendra.
Prasasti Ligor: Bukti Pengaruh Sriwijaya yang Menjangkau Semenanjung Malaya hingga Thailand Selatan
Pendahuluan
Ketika membahas kejayaan Kerajaan Sriwijaya, banyak orang membayangkan wilayah kekuasaannya hanya mencakup Sumatra dan sebagian Nusantara. Namun, berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa pengaruh kerajaan maritim ini meluas hingga ke luar wilayah Indonesia modern. Salah satu buktinya adalah Prasasti Ligor, sebuah prasasti yang ditemukan di wilayah Thailand Selatan dan menjadi saksi besarnya pengaruh Sriwijaya di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-8 Masehi.
Prasasti Ligor memiliki arti yang sangat penting karena menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan sekadar kerajaan lokal, melainkan kekuatan maritim internasional yang mampu mengendalikan jalur perdagangan di Selat Malaka dan Semenanjung Malaya. Isi prasasti juga memperlihatkan hubungan politik dan keagamaan yang erat antara Sriwijaya dengan Dinasti Sailendra di Jawa.
Bagi para sejarawan, Prasasti Ligor menjadi salah satu bukti bahwa jaringan kekuasaan Sriwijaya mencakup wilayah yang sangat luas. Melalui penguasaan pelabuhan-pelabuhan strategis, kerajaan ini mampu menghubungkan perdagangan antara India, Tiongkok, dan kepulauan Nusantara.
Lebih dari sekadar batu bertulis, Prasasti Ligor menjadi simbol kejayaan maritim Nusantara yang pengaruhnya melintasi batas-batas negara modern.
Penemuan Prasasti Ligor
Prasasti Ligor ditemukan di kawasan Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan, yang pada masa lampau dikenal dengan nama Ligor.
Wilayah ini memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di Semenanjung Malaya, jalur penting yang menghubungkan Laut Andaman dengan Teluk Thailand.
Sebelum kapal-kapal mampu mengelilingi Semenanjung Malaya dengan mudah, kawasan ini menjadi salah satu titik persinggahan utama dalam perdagangan internasional.
Karena itulah, penguasaan atas Ligor memberikan keuntungan besar bagi kerajaan yang mengendalikannya.
Bertanggal Tahun 775 Masehi
Prasasti Ligor berasal dari sekitar 775 Masehi, masa ketika Sriwijaya berada pada puncak kejayaannya.
Pada periode tersebut, kerajaan berhasil mengendalikan berbagai pelabuhan penting di Asia Tenggara.
Kekuatan ekonomi yang besar memungkinkan Sriwijaya memperluas pengaruh politik sekaligus mendukung perkembangan agama Buddha di berbagai wilayah.
Prasasti ini menjadi salah satu sumber penting yang menggambarkan kondisi tersebut.
Dua Sisi Prasasti yang Menarik
Salah satu keunikan Prasasti Ligor adalah keberadaan tulisan pada dua sisi batu.
Para ahli biasanya menyebutnya sebagai:
- Sisi A, yang berkaitan dengan kekuasaan Sriwijaya.
- Sisi B, yang memuat informasi mengenai hubungan dengan Dinasti Sailendra.
Keberadaan dua sisi ini memberikan informasi yang sangat berharga mengenai dinamika politik Asia Tenggara pada abad ke-8.
Isi Sisi A
Pada sisi pertama, prasasti memuat pujian terhadap penguasa Sriwijaya yang berhasil membawa kemakmuran dan melindungi wilayah kekuasaannya.
Selain itu, terdapat penyebutan mengenai pembangunan tempat suci bagi umat Buddha.
Hal ini memperlihatkan bahwa Sriwijaya tidak hanya mengembangkan perdagangan, tetapi juga aktif mendukung penyebaran agama Buddha Mahayana.
Pembangunan bangunan keagamaan menjadi salah satu cara kerajaan memperkuat legitimasi politik sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan spiritual masyarakat.
Isi Sisi B dan Hubungannya dengan Dinasti Sailendra
Bagian kedua Prasasti Ligor menjadi topik yang paling banyak dibahas oleh para sejarawan.
Di dalamnya terdapat penyebutan tokoh yang dikaitkan dengan Dinasti Sailendra, penguasa yang pada masa itu berkembang di Jawa Tengah.
Hubungan ini memunculkan berbagai teori.
Sebagian ahli berpendapat bahwa Sriwijaya dan Sailendra memiliki hubungan politik yang sangat erat.
Ada pula yang menduga kedua kekuatan tersebut pernah berada dalam satu jaringan kekuasaan atau menjalin hubungan keluarga melalui perkawinan politik.
Walaupun masih menjadi bahan penelitian, Prasasti Ligor jelas menunjukkan adanya interaksi yang intens antara dua pusat kekuasaan besar di Nusantara.
Bukti Luasnya Pengaruh Sriwijaya
Prasasti Ligor membuktikan bahwa Sriwijaya memiliki kemampuan memperluas pengaruh hingga ke luar Pulau Sumatra.
Melalui penguasaan pelabuhan-pelabuhan strategis, kerajaan ini mampu:
- Mengendalikan jalur perdagangan internasional.
- Menarik pajak dari kapal dagang.
- Menjamin keamanan pelayaran.
- Menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan lain.
- Menyebarkan pengaruh budaya dan agama.
Keberhasilan tersebut menjadikan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia.
Peran Semenanjung Malaya
Semenanjung Malaya memiliki arti yang sangat penting dalam perdagangan dunia kuno.
Wilayah ini menjadi titik pertemuan para pedagang dari:
- India.
- Sri Lanka.
- Persia.
- Tiongkok.
- Kepulauan Nusantara.
Dengan menguasai kawasan tersebut, Sriwijaya memperoleh keuntungan ekonomi sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan internasional.
Sumber Penting Sejarah Asia Tenggara
Bagi para peneliti, Prasasti Ligor memberikan informasi mengenai:
- Luas wilayah pengaruh Sriwijaya.
- Hubungan dengan Dinasti Sailendra.
- Penyebaran agama Buddha.
- Politik maritim Asia Tenggara.
- Perdagangan internasional abad ke-8.
Karena ditemukan di luar wilayah Indonesia modern, prasasti ini juga menunjukkan bahwa sejarah Nusantara tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.