Mengulas sejarah Prasasti Talang Tuwo, peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang mencatat pembangunan Taman Sriksetra serta mencerminkan kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat dan ajaran Buddha.
Prasasti Talang Tuwo: Ketika Sriwijaya Membangun Taman demi Kesejahteraan Rakyat dan Nilai Kemanusiaan
Pendahuluan
Ketika membahas prasasti-prasasti kuno di Indonesia, sebagian besar orang membayangkan isi yang berkaitan dengan peperangan, kemenangan raja, atau perluasan wilayah. Namun, Prasasti Talang Tuwo menawarkan sudut pandang yang sangat berbeda. Alih-alih menonjolkan kekuatan militer, prasasti ini justru berisi harapan tentang kesejahteraan, kelestarian alam, dan kebahagiaan seluruh makhluk hidup.
Prasasti yang berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya ini merupakan salah satu dokumen paling unik dalam sejarah Indonesia kuno. Isinya mencatat pembangunan sebuah taman bernama Sriksetra, yang didirikan atas perintah penguasa Sriwijaya sebagai tempat yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi wujud pengamalan nilai-nilai Buddha.
Melalui Prasasti Talang Tuwo, kita dapat melihat sisi lain Sriwijaya. Jika Prasasti Kedukan Bukit menggambarkan lahirnya kerajaan dan Prasasti Kota Kapur memperlihatkan kekuatan militernya, maka Prasasti Talang Tuwo menunjukkan bahwa kerajaan ini juga memiliki perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyat, lingkungan, dan kehidupan spiritual.
Karena itulah, prasasti ini menjadi salah satu sumber sejarah yang sangat penting untuk memahami bagaimana pemerintahan Sriwijaya memadukan pembangunan fisik dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Penemuan Prasasti Talang Tuwo
Prasasti Talang Tuwo ditemukan pada 17 November 1920 di kawasan Talang Tuwo, sebelah barat Kota Palembang, Sumatra Selatan.
Lokasi penemuan berada tidak jauh dari wilayah yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.
Prasasti dipahat pada batu besar menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, sama seperti beberapa prasasti Sriwijaya lainnya.
Saat ini, Prasasti Talang Tuwo menjadi salah satu koleksi penting yang disimpan di Museum Nasional Indonesia, sekaligus menjadi rujukan utama dalam penelitian sejarah Sriwijaya.
Bertanggal Tahun 684 Masehi
Prasasti Talang Tuwo dibuat pada 606 Tahun Saka, yang setara dengan 684 Masehi.
Artinya, prasasti ini dibuat hanya satu tahun setelah Prasasti Kedukan Bukit.
Perbedaan isi kedua prasasti tersebut sangat menarik.
Jika Kedukan Bukit menceritakan perjalanan dan keberhasilan ekspedisi Dapunta Hyang, Talang Tuwo justru menggambarkan pembangunan fasilitas umum yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa setelah memperkuat posisi politiknya, Sriwijaya mulai memberikan perhatian pada pembangunan sosial.
Apa Itu Taman Sriksetra?
Isi utama Prasasti Talang Tuwo adalah pendirian sebuah taman bernama Sriksetra.
Kata “Sri” sering diartikan sebagai kemuliaan atau kemakmuran, sedangkan “Ksetra” berarti tanah atau kawasan.
Dengan demikian, Sriksetra dapat dimaknai sebagai kawasan yang membawa kemakmuran.
Menurut isi prasasti, taman tersebut ditanami berbagai jenis pohon dan tanaman yang bermanfaat bagi masyarakat.
Beberapa di antaranya diperkirakan meliputi:
- Pohon buah-buahan.
- Kelapa.
- Pinang.
- Bambu.
- Tanaman obat.
- Tanaman peneduh.
Selain menghasilkan bahan pangan, taman ini juga dirancang sebagai ruang yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Tujuan Pembangunan Taman
Pembangunan Taman Sriksetra bukan sekadar proyek penghijauan.
Prasasti menyebutkan berbagai harapan agar taman tersebut membawa manfaat bagi seluruh makhluk hidup.
Tujuan tersebut meliputi:
- Menyediakan makanan.
- Menjadi sumber air.
- Memberikan tempat berteduh.
- Menjadi kawasan yang indah.
- Membantu masyarakat memperoleh kesejahteraan.
Konsep ini menunjukkan bahwa Sriwijaya telah memahami pentingnya pembangunan yang memperhatikan keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Nilai-Nilai Buddha dalam Prasasti
Prasasti Talang Tuwo sangat dipengaruhi ajaran Buddha Mahayana yang berkembang di Sriwijaya.
Isi prasasti dipenuhi doa agar semua makhluk memperoleh:
- Kebahagiaan.
- Kesehatan.
- Umur panjang.
- Keselamatan.
- Kemajuan spiritual.
Bahkan harapan tersebut tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup.
Pandangan seperti ini mencerminkan ajaran kasih sayang universal dalam Buddhisme.
Tidak mengherankan apabila Sriwijaya kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran agama Buddha terbesar di Asia.
Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Buddha
Pada abad ke-7 hingga ke-10, Sriwijaya tidak hanya terkenal sebagai kerajaan dagang.
Kerajaan ini juga menjadi pusat pendidikan agama Buddha yang didatangi pelajar dari berbagai negara.
Pendeta Tiongkok I-Tsing (Yijing) pernah tinggal di Sriwijaya selama beberapa tahun untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Catatan I-Tsing menunjukkan bahwa Sriwijaya memiliki banyak biara, guru agama, dan sistem pendidikan yang maju.
Prasasti Talang Tuwo semakin memperkuat gambaran tersebut karena memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Buddha diterapkan dalam kebijakan pemerintahan.
Bukti Awal Kepedulian terhadap Lingkungan
Salah satu hal yang membuat Prasasti Talang Tuwo terasa sangat modern adalah perhatiannya terhadap alam.
Pembangunan taman dilakukan bukan hanya demi keindahan, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Konsep seperti ini memiliki kemiripan dengan gagasan pembangunan berkelanjutan yang dikenal saat ini.
Melalui taman yang dipenuhi berbagai tanaman produktif, Sriwijaya berusaha menciptakan ruang yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, sekaligus ekologis.
Sumber Penting Sejarah Sriwijaya
Bagi para sejarawan, Prasasti Talang Tuwo memberikan informasi mengenai:
- Kehidupan sosial masyarakat Sriwijaya.
- Pengaruh agama Buddha.
- Kebijakan pembangunan kerajaan.
- Penggunaan bahasa Melayu Kuno.
- Nilai-nilai kemanusiaan pada abad ke-7.
Informasi tersebut melengkapi gambaran mengenai Sriwijaya yang sebelumnya lebih banyak dikenal melalui aktivitas perdagangan dan pelayaran.